Pondok Ngujur
Benarkah Bangsa Ini Mencintai Nabi Muhammad?

Benarkah Bangsa Ini Mencintai Nabi Muhammad?

Tamaddun22/08/2026
HA

Hayyik Ali M.M

Madiun (23/08/2026)_ Pertanyaan tersebut tak perlu buru-buru dijawab. Juga tak harus disikapi dengan ketersinggungan. Pelan-pelan, coba kita renungkan. Bukankah cinta kerapkali mendorong seseorang untuk meniru apapun dari yang dicintai? Bukankah cinta seringkali melahirkan tindakan-tindakan nekat untuk menyenangkan hati yang dicintai? Cinta yang hanya di mulut, ibarat suara remaja labil yang tak pernah sungguh-sungguh mencintai.

Maulid Nabi Muhammad selalu menjadi perayaan penuh gempita bagi umat Islam Indonesia. Setiap tahun, dari desa hingga kota, masyarakat menyemarakkan shalawat, pengajian, dan syukuran. Tentu juga lomba-lomba. Namun, di balik semarak itu, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah kita benar-benar telah berusaha meneladani Nabi sebagai pembawa rahmat bagi semesta, ataukah kita terjebak pada rutinitas seremonial semata?

Selain ajakan bertauhid, Nabi menyeru untuk memperbaiki kehidupan sosial manusia. Ia membebaskan masyarakat jahiliyah dari praktik dehumanisasi: membunuh bayi perempuan, memperjualbelikan budak, dan mengabaikan keadilan sosial-ekonomi. Ia hapus perbudakan. Ia lucuti elit-elit ekonomi Makkah, agar kehidupan setara. Ia perintahkan zakat dan shodaqoh, agar kekayaan tak berpusat hanya pada golongan atau orang yang itu-itu saja.

Nabi Muhammad bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain” (HR. Ahmad). Ia juga menyeru, "Barangsiapa memerdekakan seorang budak, maka Allah akan membebaskan setiap anggota tubuhnya dari api neraka." (HR. Bukhari dan Muslim). Kalimat-kalimat Kanjeng Nabi meneduhkan bagi mereka yang dikalahkan (mustadh’afin). Suara jernih Nabi Muhammad senjata yang melindungi umat dari kezaliman. Ia Rasul yang berpihak pada rakyat lemah.

KH. Musthofa Bisri atau Gus Mus meratap dalam puisinya yang bergetar:

Aku merindukanmu, o, Muhammadku

Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah

Menatap mataku yang tak berdaya

Sementara tangan-tangan perkasa

Terus mempermainkan kelemahan

Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan

Mencari-cari tangan

Lembut-wibawamu

………………………..

Puisi Gus Mus serupa kemarahan dan kerinduan. Ia marah atas potret bangsanya, sekaligus rindu akan sosok agung penuh cinta dan keadilan: Muhammad.

Kemiskinan masih menjadi persoalan besar bangsa kita. Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 mencatat jumlah penduduk miskin sekitar 25 juta orang. Namun, yang lebih ironis, standar garis kemiskinan yang digunakan sangat rendah, yaitu hanya sekitar Rp550 ribu per kapita per bulan. Artinya, seseorang yang berpenghasilan Rp600 ribu per bulan tidak lagi dianggap miskin, meskipun jelas tidak cukup untuk hidup layak.

Korupsi juga menjadi penyakit akut bangsa. Indeks Persepsi Korupsi (CPI) Indonesia tahun 2024 berada di skor 34/100, menempatkan Indonesia di peringkat 115 dunia—salah satu yang terburuk di Asia Tenggara. ICW melaporkan, pada 2023 ada 619 kasus korupsi dengan kerugian negara mencapai Rp 5,8 triliun. Padahal, korupsi adalah bentuk paling nyata dari pengkhianatan terhadap amanah, sesuatu yang oleh Nabi dipandang sebagai tanda hilangnya iman. Seperti sabda beliau: “Apabila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran” (HR. Bukhari).

Di bidang hak asasi manusia (HAM), laporan Komnas HAM masih mencatat banyak kasus kekerasan aparat terhadap warga, konflik agraria, dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas. KontraS misalnya, melaporkan pada 2023 terdapat lebih dari 600 peristiwa kekerasan oleh apparat. Padahal, Nabi diutus justru untuk membela kaum mustadh’afin—mereka yang lemah dan tak berdaya. Dan Gus Dur berkali-kali mengingatkan bahwa keislaman seseorang harus tercermin dalam keberpihakan sosial, terutama membela mereka yang terpinggirkan.

Krisis ekologis pun menjadi tantangan besar. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan, dalam dua dekade terakhir Indonesia kehilangan jutaan hektar hutan akibat deforestasi. WALHI mencatat, pada 2022 saja, Indonesia kehilangan lebih dari 600 ribu hektare hutan akibat ekspansi industri ekstraktif. Greenpeace menambahkan, kebakaran hutan dan lahan terus berulang, dengan kerugian ekologis dan ekonomi hingga Rp 72 triliun. Artinya, manusianya dizalimi, sementara buminya juga dirusak dengan brutal.

Jauh-jauh hari Al-Qur’an telah mengingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia...” (QS. Ar-Rum: 41). Pesan ekologis al-Qur’an ini diperkuat oleh seruan-seruan Muhammad. Bahkan dalam kondisi peperangan, Nabi melarang para sahabat menebang pohon sembarangan. Bahkan ketika bumi sedang berhadapan dengan kiamat pesan ekologis Muhammad tetap didengungkan— “Jika kiamat tiba sementara di tangan salah seorang dari kalian ada benih kurma, maka tanamlah” (HR. Ahmad).

Merayakan Maulid, seharusnya berarti menghidupkan kembali etos profetik Nabi: melawan kemiskinan struktural, memberantas korupsi, menegakkan keadilan HAM, dan menjaga keadilan ekologis atau lingkukan. Tanpa itu, beragama jatuh pada kubangan ritus yang gagal menjadi solusi persoalan kehidupan. Bukankah, Islam itu transformative? Ada kebaikan sosial yang dituju.

Dalam hal ini, seorang intekektual muslim, Kuntowijoyo, mentesiskan tentang Ilmu Sosial Profetik. Menurutnya, ilmu sosial dan misi kenabian harus berjalan beriringan. Intinya ada tiga: Humanisasi, liberasi, dan transendensi. Humanisasi, Nabi menolak praktik dehumanisasi perbudakan, diskriminasi, juga rasisme. Liberasi, Nabi membebaskan masyarakat dari penindasan, ketidakadilan ekonomi, dan tirani. Transendensi: Nabi tidak hanya fokus duniawi, tapi mengarahkan manusia kembali kepada Allah, kepada tauhid.

Dan tauhid menurut Nurcholish Madjid, cendekiawan muslim asal Jombang, sejatinya membebaskan manusia dari sesembahan-sesembahan selain Allah. Sesembahan itu bisa berupa nafsu, materi atau benda, kekuasaan yang menindas, juga ideologi yang membutakan nurani. Jika ada kekuasaan yang otoriter, anti kritik, dan berlaku tak adil, maka hakikatnya kekuasaan tersebut berjalan memunggungi Tauhid.

Akhiron, Maulid bukan sekadar perayaan kelahiran, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali bahwa keberagamaan kita harus nyata dalam membangun keadilan, membela yang lemah, menghapus diskriminasi, dan menumbuhkan kasih sayang. Inilah yang dimaksud dengan Rahmatan lil ‘alamin—rahmat yang hidup, yang menyentuh kehidupan sehari-hari, dan yang menjadikan agama sebagai cahaya bagi kemanusiaan.

Catatan: Artikel ini pernah dimuat di Majalah Madrasatul Quran (MQ) Times, Tebuireng Jombang, edisi 24 (Juli-September 2025). Penulis merupakan pengisi rutin kolom Opini di majalah tersebut. Artikel dimuat ulang dalam format daring dengan tujuan ketersebaran dan arsip.

Komentar (0)