Pondok Ngujur
Bertemu Ki Hadjar Dewantara di Tamoe Gakuen

Bertemu Ki Hadjar Dewantara di Tamoe Gakuen

Tamaddun09/04/2026
HA

Hayyik Ali M.M

Ia dianggap ganjil, cerewet, dan sulit diatur. Setiap kali jam pembelajaran ada saja ulahnya: banyak tanya, membuka tutup laci meja yang menyebabkan kegaduhan, dan naik meja memandang halaman luar dari balik jendela kelas.

Satu waktu, ketika guru- nya tengah sibuk menjelaskan materi dengan menuliskannya di papan — seolah Si Guru sedang berbicara sendiri di hadapan papan tulis — gadis kecil itu melihat sekawanan pemusik jalanan lewat. Ia memanggil mereka dari balik jendela, dan kehadiran pemusik segera saja menarik perhatian teman-teman lainnya. Kelas riuh, hidup. Anak-anak tertawa bahagia. Dan Sang Guru marah besar, merasa terabaikan.

Gadis kecil itu lalu dikeluarkan dari sekolah. Ia belum sepenuhnya memahami apa makna “dikeluarkan”, ditolak. “Ibu… apakah aku benar-benar anak buruk?” tanyanya.

Ibunya merasa sedih, namun tak patah. Bersama anak kecilnya, ia berkeliling mencari sekolah yang cocok. Tamoe Gakuen atau Sekolah Tamoe akhirnya dipilih dan dianggap cocok.

Ketika ibunya mengantarnya ke sekolah baru, gadis kecil itu berlari kecil penuh semangat. Ia tertegun melihat ruang kelas berupa gerbong kereta. Ia tak sabar ingin menjadi murid di sana, di sekolah yang bentuk bangunannya mampu menghidupkan imajinasi.

Begitu bertemu Kepala Sekolah, Sosaku Kobayashi, ia duduk dengan gelisah. Ibunya juga khawatir bahwa sekolah akan kembali menolak anaknya. Dengan gestur yang ramah, Kepala Sekolah meyakinkan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Ia meminta waktu bercakap dengan Si Anak, empat mata, dan dari hati ke hati.

Kobayashi tersenyum ha ngat, lalu berkata, “Cerita- kan apa saja yang ingin kamu ceritakan. Aku akan mendengar- kan”.  Dan  Gadis Kecil itu bercerita — bukan lima menit, bukan sepuluh menit, tetapi empat jam: tentang anjing, burung, dagu tetangga, tentang apa saja yang melintas di kepalanya. Kobayashi tidak memotong. Ia mendengarkan seluruhnya. Ketika Gadis Kecil itu selesai, ia hanya berkata: “Kamu anak yang baik. Kamu sekarang murid sekolah ini.”

Gadis kecil itu bernama Totto-Chan. Ia tokoh utama novel autobiografi karya Tetsuko Kuroyanagi, Madogiwa Totto-chan. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 20 bahasa dan menjadi salah satu buku paling laris dalam sejarah Jepang. Di Indonesia, buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan judul Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Dan tahun 2024, novel ini diadaptasi menjadi sebuah film animasi sepanjang kurang lebih 114 menit dan berjudul “The Little Girl at the Window”.

Ketika membaca novel dan menonton filmnya, saya merasa kerdil sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Saya tak sesabar dan sevisioner Kobayasi. Bahkan masih jauh untuk mampu membangun sebuah institusi pendidikan semacam Tamoe Gakuen. Padahal, seringkali saya menemukan banyak sekali “Totto-Chan” di masyarakat kita. Mereka lahir istimewa, lalu tumbuh menjadi pribadi yang tak utuh lagi. Karena, pendidikan gagal mengasuhnya dan meledakkan potensinya.

Indonesia pernah punya sekolah yang dibangun oleh gagasan, kerangka filosofis, dan visi kebudayaan — alih- alih oleh dorongan modal dan visi kapitalisasi pendidikan. Ia mirip Tamoe Gakuen. Namanya Taman Siswa. Pendirinya merupakan seorang filsuf pendidikan, Ki Hadjar Dewantara.

Ketika menyimak novel dan film Totto-Chan, saya langsung teringat dengan gagasan-gagasan Ki Hadjar Dewantara. Meski tak sama persis, namun film tersebut seolah ditaburi pemikiranpemikiran Ki Hadjar. Ada banyak sekuel di film maupun novel tersebut yang dapat kita jelaskan kesamaannya dengan pemikiran Ki Hadjar.

Dan bagi saya pribadi, membaca sastra sama pentingnya membaca karya ilmiah atau teoritik. Karena bagaimanapun, intelektualitas akan menjadi pincang jika kita hanya bertungkuslumus pada karya-karya ilmiah dan teoritik yang kerap kali dingin dan kaku, sembari mengabaikan pergumulan dengan karya-karya sastra dan seni. Pramoedya Ananta Toer menyebut kecenderungan ini dengan sarkas, “tanpa mencintai sastra, kalian hanyalah hewan yang pandai”.

Begitupun dengan pemikiran Ki Hadjar, agar kita mampu mengimajinasikan bagaimana eksperimentasi pemikiran tersebut disemai adalah, salah satunya dengan membaca karya sastra atau film yang kebetulan dekat dengan pemikiran tersebut. Kita bisa menonton Totto-Chan ini, membaca The Catcher in The Rye, menyimak kisah Bu Thompson, atau mendengarkan kisah hidup Thomas Alva Edison. Kesemuanya itu, saya pikir menggemakan gagasan yang sama. Bahwa seorang anak berhak tumbuh berkembang sesuai kejeniusannya masing-masing. Dan sekolah bukan ruang gelap yang membonsai pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Visi utama pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Kebahagiaan ini hanya bisa diraih jika individu mengalami ‘Merdeka Belajar’. Namun, kebebasan ala Ki Hadjar bukanlah kebebasan tanpa batas (vrijheid), melainkan kemerdekaan yang terarah, dipandu oleh Pamong — seorang guru yang mengasuh, bukan menghukum — seperti Kobayasi.

Sementara gerbong Tomoe Gakuen adalah manifestasi visual dari konsep merdeka tersebut. Di sana, siswa bebas memilih materi pelajaran yang ingin mereka pelajari, kapan mereka ingin memulainya, dan bagaimana mereka ingin menyelesaikannya. Seorang siswa mungkin memulai hari dengan Matematika, dilanjutkan dengan melukis, dan mengakhirinya dengan mengamati tanaman. Tidak ada bel masuk, tidak ada jadwal kaku, tidak ada seragam identik, hanya rasa ingin tahu dan hasrat untuk tumbuh.

Kepala Sekolah Kobayashi bertindak sebagai Pamong sejati. Ia mengedepankan Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan), mencontohkan kesabaran dan penghormatan. Ia percaya bahwa Totto-chan yang ‘nakal’ di sekolah lama, sesungguhnya adalah benih genius yang keliru ditanam. Ini adalah inti dari konsep Kodrat Alam Ki Hajar Dewantara, bahwa setiap anak lahir dengan kekuatan dan keunikannya sendiri. Tugas pendidik bukanlah mengubah kodrat itu, melainkan menuntun agar kekuatan itu tumbuh ke arah kebaikan, menuntunnya menjadi aktualitas diri yang paripurna.

Gerbong kereta Tomoe adalah metafora dari ruang kelas yang ideal—ia bergerak, ia inklusif (terbuka), dan ia menghargai setiap penumpang (siswa) dengan tujuan (uniknya) masing-masing.

Ki Hadjar Dewantara juga punya konsep Tri Rahayu: Memayu Hayuning Sarira (menjaga keselamatan diri), Memayu Hayuning Bongso (menjaga keselamatan bangsa), dan Memayu Hayuning Bawono (menjaga keselamatan alam semesta). Konsep ini menempatkan keselarasan individu dalam hubungan dialektis dengan sekitarnya. Sehingga, pendidikan tidak mendorong seorang anak tumbuh individualis, melainkan menyiapkan mereka untuk menjadi bagian di dalam masyarakat yang lebih luas.

Keselamatan diri bermula dari penyeimbangan Cipta (pikiran), Rasa (emosi/ hati), dan Karsa (kemauan). Di Tomoe, Totto-chan dan kawan-kawannya diajarkan hal ini. Murid Tomoe tidak hanya membaca buku, mereka juga berenang telanjang, bermain di luar, berkebun, makan bersama dan membantu satu sama lain. Ketika Totto-chan berempati kepada temannya yang difabel, lalu merasa kehilangan ketika temannya itu meninggal, maka Totto-Chan telah punya kesadaran komunal.

Begitupun dengan keselamatan bangsa, anak diajarkan mencintai bangsanya. Tentang menjaga keselamatan bangsa ini, Ki Hadjar tidak meletakkannya sebagai sesuatu yang harga mati. Nasionalisme, bagi Ki Hadjar, dapat bergeser menindas kemanusiaan. Karenanya, kemanusiaan haruslah diletakkan lebih tinggi dibanding dengan kebangsaan.

Inilah salah satu dimensi yang paling relevan saat ini, menjaga alam. Krisis ekologi hari ini: banjir, pemanasan global, kekeringan, tanah longsor, dan sebagainya, merupakan salah satu indikator kegagalan pendidikan. Anak didik tercerabut dari alam lingkungannya. Mereka tak merasa menjadi bagian dari alam, dan lebih parahnya jika seorang anak merasa bahwa alam ada untuk melayani keinginan dan kesenangannya.

Di Tomoe, gerbong kereta tua yang tidak terpakai diubah menjadi aset yang berharga. Anak-anak diajak merasakan angin, lumpur, dan hujan. Mereka belajar bahwa alam adalah guru, bukan objek eksploitasi. Sederhananya, anak-anak Tamoe ditanamkan kesadaran bahwa mereka bagian dari alam. Saban hari mereka harus membawa bekal makan dengan kombinasi lauk dari laut dan darat/pegunungan.

Ketika makan siang bersama murid-murid Kobayasi berkata, “Ini makanan dari gunung dan dari laut. Kalian harus belajar mencintai apa yang diberikan alam.” Bagaimana dengan Makan Bergizi Gratis (MBG) negara kalian?

Pemikiran Ki Hadjar juga menempatkan manusia sebagai bagian tak terpisahkan dari alam semesta. Ketika seorang anak telah mencapai Memayu Hayuning Sarira, ia wajib melanjutkannya dengan Memayu Hayuning Bongso dan Memayu Hayuning Bawono. Karena, tidak ada kebahagiaan individu yang bisa dicapai di tengah penderitaan bangsa atau kerusakan alam. Inilah keluhuran konsep Ki Hadjar, ia mengintegrasikan kebebasan individual (Barat) dengan tanggung jawab komunal (Timur) dengan mengindahkan kebudayaan-kebudayaan yang hidup di masyarakat.

Dan akhirnya, di tengah dunia pendidikan kita yang makin mengabdi pada pasar atau cara pandang ekonomi, mungkin kita butuh kembali kepada kesunyian sederhana yang dulu diberikan Kobayashi kepada Totto-chan:

“Ceritakan apa saja. Aku akan mendengarkan.”

Komentar (0)