Madiun (12/07/2026)_ Libur Semester Genap telah usai. Pondok Pesantren Tarbiyatul Mutathowi’in atau Pondok Ngujur selama kurang lebih dua minggu sepi dari suara santri mengaji, kini kembali ramai. Pada Kamis, 09 Juli 2026, santri lama dan baru kemabli berdatangan untuk menimba ilmu.
Bagi santri lama, kembali ke pondok setelah libur panjang terasa seperti anak kecil yang dipaksa bangun pagi untuk pergi sekolah saat sedang tidur lelap. Sedang bagi santri baru, memasuki pesantren seolah membawa mereka masuk ke dunia baru yang asing.
Sehingga, bagi sebagian besar orang tua, melepaskan buah hati ke pesantren sering kali memicu pergolakan batin. Ada rasa gelisah yang menyelusup: mampukah mereka bertahan tanpa gawai? Akankah mereka kuat di tengah kedisiplinan yang ketat? Bisakah mereka hidup mandiri tanpa sentuhan tangan orang tua? Bisakah mereka hidup berdampingan dengan orang lain? Bagaimana agar mereka betah jauh dari rumah?
Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA) 2026 di Pondok Pesantren Tarbiyatul Mutathowi’in (Pondok Ngujur) berlangsung tiga hari (10 Juli-12 Juli 2026), hadir untuk menjawab kegelisahan tersebut. Baik santri lama maupun baru, butuh digandeng agar mengenal nikmatnya mondok di pesantren. MOSBA bukan sekadar ritual tahunan menyambut santri baru, lebih dari itu MOSBA diharapkan dapat menjadi gerbang bagi “anak rumahan” untuk memasuki dunia pesantren dengan tekad bulat.
Berikut adalah lima pelajaran hidup mendalam yang disarikan selama MOSBA 2026:
1. Yakin atau Ridho Sebagai Santri
Pengasuh PP. Tarbiyatul Mutathowi’in, KH. Nur Khozin, dalam pembukaan dan penutupan MOSBA membawakan materi “Sejarah, Tradisi, dan Amaliyah Pondok Ngujur”. Beliau bercerita kepada santri bahwa pondok ini didirikan oleh KH. Ali Rahmat yang merupakan murid langsung dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng. Bahkan, nama Tarbiyatul Mutathowi’in sendiri merupakan pemberian dari KH. Hasyim Asy’ari ketika KH. Ali Rahmat sowan dan memohon restu. Menurut KH. Nur Khozin, riwayat pendirian dan silsilah keilmuan yang jelas inilah yang menjadi alasan utama para orang tua serta para alumni masih memercayakan anak-anak mereka untuk mondok di Pondok Ngujur. Karena dinilai lebih sarat keberkahan.
Selain itu, beliau juga menekankan tradisi dan amaliyah yang selama ini terus dijaga. KH. Ali Rahmat meninggalkan warisan wirid atu aurod yang selalu dibaca oleh para santri selepas sholat. Dan itu telah berlangsung puluhan tahun. Dan inti dari semua kegiatan di pondok, menurut KH. Nur Khozin adalah Jamaah dan Ngaji. Seakan beliau hendak berpesan bahwa kalua keduanya itu sudah tertib, kegiatan yang lain atau hal-hal lain pasti akan mengikuti. Kuncinya, Jamaah dan Ngaji.
Di awal dan penghujung MOSBA, KH. Nur Khozin mengajak para santri untuk memantapkan niat. Santri-santri diajak berikrar bahwa mereka yakin dengan pilihan modok di sini, ridho kepada Kiai dan Asatidz, ridho pada apapun ketetapan aturan di sini, dan tentu saja berjanji untuk bersungguh-sungguh dalam belajar.
Yakinnya wali santri dan juga santri merupakan modal awal futuhnya ilmu.
2. Mondok Bukan Sekadar Belajar, Tapi Menggapai Kemuliaan Dunia dan Akhirat
Sesi pertama diisi oleh Ustaz Yusuf Fathoni, alumnus Pondok Ngujur yang kini diamanahi menjadi Kasi Pendma Kemenag Madiun. Beliau membawakan materi “Keutamaan Menuntut Ilmu dan Adab Santri”.
Beliau merefleksikan perjalanannya sendiri yang dimulai sejak tahun 1991—era di mana radio masih menjadi barang mewah—hingga kembali ke Pondok Ngujur pada tahun 2026. Beliau menekankan bahwa mondok adalah sebuah mujahadah (perjuangan) spiritual yang tidak lekang oleh zaman. Masuk ke pesantren bukan sekadar pindah sekolah, melainkan meluruskan niat untuk memulai perjalanan menuju kemuliaan akhirat.
Beliau mengingatkan bahwa mondok harus dimulai dari nawaitu yang tulus agar setiap langkah bernilai ibadah. Santri juga perlu fokus belajar. Ustaz Yusuf Fathoni membenturkan realitas era digital dengan disiplin pesantren melalui analogi cermin. Beliau menjelaskan bahwa sinar matahari yang terik sekalipun tidak akan mampu membakar selembar kertas jika cahayanya menyebar. Namun, dengan bantuan cermin yang memusatkan cahaya pada satu titik, api pun akan muncul. Begitu pula dengan ilmu; fokus adalah instrumen utama untuk menghancurkan tabir kebodohan.
Beliau juga menitipkan filosofi "Sumur" kepada para santri. Sumur yang airnya terus ditimba tidak akan pernah kering, justru airnya semakin jernih dan sumbernya kian melimpah. Santri tidak boleh pelit ilmu; semakin diamalkan, maka keberkahannya akan semakin luas mengalir. Sebuah kutipan khidmat beliau titipkan untuk direnungkan:
"Merendahlah hingga orang lain sulit merendahkanmu, dan mengalahlah hingga orang lain sulit mengalahkanmu."

3. Jadikan Pesantren Seperti Rumah Sendiri
Materi kedua “Pesantrenku, Rumahku” dibawakan Gus Hayyik Ali Muntaha Mansur. Beliau membawa perspektif menarik tentang konsep Baiti Jannati. Beliau membedakan antara "Rumah Fisik"—yang sekadar melindungi dari panas dan hujan—dengan "Rumah Jiwa". Pesantren harus menjadi “Rumah Fisik” sekaligus “Rumah Jiwa”.
Banyak rumah yang gagah secara fisik, namun gagal menjadi rumah bagi jiwa. Karena itu, selain memerhatikan aspek fisik atau sesuatu yang tampak, pesantren juga harus memerhatikan aspek non-fisik. Pesantren harus menjadi tempat di mana jiwa santri merasa aman, nyaman, dan tenang. Kiai, Bu Nyai, Gus, dan Ustaz ibarat orang tua rohani atau ideologis bagi santri. Sedang teman satu pondok seperti saudara kandung yang hidup penuh kekeluargaan, tak saling merundung apalagi mengedepankan kekerasan.
Beliau juga berpesan tegas agar santri menjaga nama baik pondok layaknya menjaga kehormatan keluarga sendiri. Jika ada kekurangan atau masalah di dalam "rumah," selesaikan dengan kekeluargaan, jangan dibawa keluar sampai orang lain tahu. Karena tak mungkin ada “rumah tangga” yang tanpa masalah dan kekurangan.
Jika pesantren benar-benar telah berhasil seperti rumah ideal, maka hakikatnya Orang tua tidak sedang "membuang" anak mereka. Melainkan, Mereka sedang menanam satu generasi yang baik. Dan bagi anak, lingkungan pesantren tidak lagi menjadi beban, namun jadi ruang untuk tumbuh.
"Omah jiwa niku omah sing awake dewe ngeroso aman, ngeroso ayem, ngeroso tenang, ngeroso tentram." (Rumah jiwa itu adalah rumah di mana kita merasa aman, merasa damai, merasa tenang, merasa tenteram).
4. Membangun Karakter Butuh Waktu dan Tempaan
Pesantren diibaratkan sebagai tempat "Pande" (pandai besi). Besi tua yang berkarat tidak akan pernah menjadi sebilah keris atau pisau yang tajam tanpa melewati proses dipanaskan di api membara, ditempa dengan pukulan palu, dan diasah berkali-kali. Gus Imron Mahmudi, melalui materi ketiga “Aturan dan Tata Hidup di Pesantren” menekankan bahwa rasa "sakit" dalam kedisiplinan dan tata tertib sebenarnya adalah salah satu upaya membangun kesantrian.
Proses yang berat di pesantren adalah investasi karakter jangka panjang: jujur, tanggungjawab, mandiri, tidak cengeng, dan sebagainya. Dunia hari ini sudah memiliki terlalu banyak orang pintar, namun krisis orang yang "bermanfaat" (useful). Dengan disiplin yang ketat, santri tidak hanya mengejar ijazah, tetapi melatih daya survival. Sebagaimana besi yang menjadi mahakarya (masterpiece) karena tempaan yang keras, santri dipersiapkan agar tidak hanya bertahan hidup, tetapi mampu menjadi solusi di masyarakat.
Kuncinya hanya satu: Istiqomah dalam belajar meski sedikit demi sedikit.

5. Kekeluargaan
Di pesantren kita dilatih untuk hidup bermasyarakat— hidup bersama banyak orang dengan beragam perbedaan. Bayangkan, bertahun-tahun kita hidup sekamar dengan banyak orang, dan masing-masing punya perbedaan: baik fisik, sifat, maupun karakter. Jika gagal beradaptasi, maka pasti terjadi konflik fisik maupun batin.
Sehingga keberhasilan pergaulan di pesantren adalah keakraban dan kekeluargaan. Dalam MOSBA 2026, salah satu cara yang kami tempuh adalah dengan menyiapkan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan membangun keakraban di antara para santri. Santri jalan pagi bersama berkeliling desa. Lalu, mereka diajak melibatkan diri dalam beragam permainan yang mengakrabkan. Mereka juga diajak untuk nonton film Bersama-sama. Terutama bagi santri baru, kegiatan seperti ini diharapkan dapat membuat mereka nemukan rumah dan keluarga baru.
Harapannya, santri menemukan “keluarga” di pesantren.
Belum Ada Artikel
BRI - 004501003478569a.n. PONDOK PESANTREN TARBIYATUL MUTATHOWI'IN